Sunday, October 16, 2016

Story Blog Tour : Rahasia Setelah Kematian


Pic From; Tumblr.com


Chapter 8
Rahasia Setelah Kematian


Mati.

Mati adalah sekat pembatas, sekat pembatas antara kehidupan dan dunia setelah kehidupan, dunia yang entah apa namanya tidak akan ada yang tahu, dan masih menjadi rahasia. Jika kau ingin tahu rahasia itu, maka jalan satu-satunya kau harus mati.

Dada pria itu sesak. Seakan paru-parunya telah menyempit, dan udara yang ia hirup dengan sekuat tenaga seakan enggan masuk ke rongga dada, sakit, rasanya ingin bunuh diri, ingin mati.

“Sial!!”

Bugh!

Tangan pria itu mengepal, sebelum sukses menghantam tembok batu yang tak mungkin runtuh hanya dengan satu pukulan tangan kosong.

Air matanya mengalir tanpa permisi, membuatnya merasa menjadi orang bodoh untuk yang kedua kali. Dengan pakaian serba hitam, Tio, sedang meratapi nasib, menimbang-nimbang, haruskah ia ikut mati? Untuk menebus kesalahan, sekaligus menyusul dia.

Tio tidak akan sanggup pergi ke sana, ia terus berdiam diri dalam ruangan yang menjadi gelap karena sengaja tak ia nyalakan lampunya, ruangan ini adalah sanggar, sanggar tari yang mereka gunakan untuk latihan tarian ritual biadab itu. Perlahan sayup sayup suara dari kejauhan datang mendekat, membuka pintu sanggar yang letaknya tak jauh dari gedung tua, gedung tua tempat dimana Agni kehilangan kehormatanya, juga tempat dimana Agni kehilangan nyawanya.

Tepat pagi tadi, seantero kampus heboh, karena Agni yang dikabarkan hilang setelah kematian Pak Rama, telah ditemukan digedung tua dengan keadaan mengenaskan dan tidak berbeda jauh dengan Pak Rama.

“Tio..”

Itu Naara, Urvi, juga Auri, yang juga dengan pakaian serba hitam. “Kamu nggak kesana?” Ujar Naara masih diambang pintu sanggar, Mereka bertiga tampak iba memandang Tio disudut ruangan dengan kepalan tangan yang telah membiru dan berdarah, bisa di tebak, Tio telah menantang tembok itu untuk melampiaskan pahit yang ia rasa.

Mereka bertiga berjalan mendekat, “Tio..., kamu nggak mau kesana? Setidaknya untuk mendoakan Agni untuk yang terakhir kalinya” Auri membuat suaranya selembut mungkin, karena iba, juga karena takut mengucapkan kalimat yang salah.

Naara, Urvi dan Auri terus berjalan mendekat, “Tio..”

“PERGI KALIAN!”

Deg.

Ketiganya tersentak dan menghentikan langkah kakinya, Belum selesai Naara berbicara, kini ia sudah mengurungkan niat untuk membuka mulutnya.

Hening. Hanya sayup-sayup suara isak tangis yang berusaha Tio tahan, agar tidak terdengar.

“Kenapa? Kenapa harus Agni lagi?” Desisnya.

“Diantara kalian semua, kenapa harus Agni?!” Suara Tio meninggi, kini Tio menatap ketiga teman wanita dari wanita yang ia cintai, wanita yang gagal ia lindungi, dan wanita yang kini telah pergi.

Naara yang tadi sempat mengurungkan niatnya untuk bicara, kini ia merasa harus berbicara, bagaimanapun juga, ia tidak terima oleh kata-kata Tio barusan.

“Apa?” Naara memandang Tio, membalas tatapan sengitnya “Jadi, asalkan bukan Agni yang mati, tak apa kalau satu diantara kita bertiga yang mati? Itu maksudmu?”

Tio tidak menjawab, ia masih mengepalkan tanganya, dan perlahan ia jatuh terduduk.

Naara menarik nafas pendek, “Dengar ya, Tio, Kita semua juga teman Agni! Apa cuma kamu yang merasa kehilangan Agni? Nggak! Kita semua juga sedih, kita semua juga kehilangan, Tapi apa kamu tahu akan satu hal?” Naara menarik nafas lagi, “Ini semua bukan salah kita, ini salah kamu, juga salah Agni! Kalian berdua yang memiliki ide untuk melakukan ini! Kami hanya membantu!”

“Na... Nara sudah.. “ Auri menepuk pundak Naara, dan memeluknya, guna untuk meredakan amarah yang tersulut di benak sahabatnya.

Tio masih diam, namun tio mulai bangkit berdiri, “Ini semua salah Angga..” Ucapnya lirih

“Angga..? “ Ketiganya mengernyit, dan menautkan alis, “Angga.. siapa?” Auri kebingungan.

“SEMUA SALAH ANGGA!” Amarahnya sudah mencapai puncak, Tio bergegas keluar dari sanggar itu, Naara dan Auri nampak kebingungan, tapi mereka segera keluar menyusul Tio, Naara menoleh kebelakang, mendapati temanya yang masih berdiri didalam sana, Urvi, yang sedari tadi diam seribu bahasa.

“Urvi, ayo!” Ajak Naara melambaikan tanganya pada Urvi.

“Ya”

Akhirnya Urvi menyusul, dan ketiganya mengikuti Tio dari belakang yang entah akan pergi kemana, dan.. siapa itu Angga?


***


Semuanya mengira bahwa Tio akan pergi ke pemakaman Agni, di tempat pemakaman umum yang letaknya hanya di pinggir jalan kurang lebih 300 meter jarak dari kampus.

Ternyata tidak, Tio berjalan menyusuri gang disamping kampus, gang yang sama sekali tidak besar dan tidak kecil, cukup apabila hanya dilalui sebuah mobil.

Mereka bertiga terus menyusuri gang itu, entah kemana kakinya melangkah, mereka hanya mengikuti langkah kaki Tio didepanya.

Tio berhenti tepat didepan sebuah rumah, rumah komplek bercat krem tipe 21 yang dirombak dan ditingkat menjadi dua lantai, memang selalu terlihat sepi seperti biasanya.

Brak! Brak Brak!

“Buka pintunya!!” Tio mengetuk pintu rumah itu kasar

Tidak ada jawaban, “Buka pintunya atau ku dobrak!”

Masih tidak ada jawaban.

Brakkk!!!

Pintu kayu itu sukses terbuka paksa hanya dengan sekali dobrakan dari Tio. Tio memasuki rumah itu tanpa izin, dan diikuti oleh temanya yang sedari tadi mengikutinya.

Mereka menaiki tangga, dan tibalah pada sebuah kamar paling ujung, kamar yang memiliki aura tidak enak, aura yang membuat semua orang bahkan orang yang tidak memiliki kekuatan supranatural pun bisa ikut merinding.

Tio mendobrak pintu kamar itu, terdapat seorang laki-laki berbadan tinggi tegap disana, cukup tampan, namun dia berantakan, rambutnya acak-acakan, sepertinya sedang tak karuan.

Tio yang memiliki tubuh tidak kalah tinggi dari pria itu mulai menghampirinya, menarik kerah baju pria itu secara paksa, dan menatapnya sengit

“Kenapa Agni juga ikut mati?! Brengsek!”

Bugh!

Satu hantaman keras sukses membelai pipi kanan pria itu dengan kasar, dan membuatnya jatuh tersungkur. Pria itu diam, ia tidak membalas, ia hanya sibuk menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

“Kenapa Agni bernasib sama seperti Sandra?” Bentak Tio, “Jawab jangan diem aja!”

Bugh!

Pukulan kedua milik Tio sukses dilayangkan, “Kubilang jawab, Angga!”

Jadi orang ini, yang bernama Angga?

Angga mengalami nasib yang sama seperti Tio, Angga kehilangan wanita yang dicintainya, Sandra. Sandra adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pak Rama sebelum Agni. Angga telah melaporkan pak Rama ke polisi, namun Angga tidak mempunyai bukti apapun karena Sandra telah mati. Sandra dibunuh setelah direbut kehormatanya oleh Pak Rama. Mengenaskan. Saat itu, Angga mulai berfikir, jika polisi tidak bisa bersahabat untuk membalaskan dendam Sandra, Maka sebagai gantinya, Angga hanya harus bersahabat dengan kegelapan.

“Hanya ada satu cara menghentikan rantai ini” Akhirnya Angga angkat bicara, “Kau, harus mulai mencari perantara lain”

Tio mengangkat alis, dan meregangkan cengkraman pada kerah baju milik Angga, “Maksudmu?”

“Batu pusaka merah ini” Angga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, tidak lain tidak bukan, adalah batu pusaka merah yang berkilauan dan telah dibungkus dengan plastik bening.

Tio tidak mengerti, namun ia kembali mencengkram kerah baju milik Angga lagi. “Terus, Kalau udah ngelakuin itu, apa Agni bisa hidup lagi? Hah?!”

Naara menelan ludah melihat kejadian ini, tak pernah ia sangka, Tio bisa semarah ini.

“Nggak Bisa” Jawab Angga, “Yang mati, nggak akan pernah bisa kembali. Namun setidaknya, dengan cara itu, nggak akan ada lagi korban yang akan mati” Tio, Naara, juga Auri tampak terbelalak.

“Mati lagi?! apakah setelah Agni masih akan ada korban lagi?” Naara yang masih berdiri di ambang pintu kamar mulai angkat suara.

Angga mengangguk, “Dan aku udah tahu siapa yang akan jadi korban selanjutnya”

Angga mulai melepaskan cengkraman Tio, ia menghidupkan TV dan memasukan CD kedalam DVD player, beberapa detik kemudian, TV itu memutarkan sebuah rekaman CCTV, CCTV saat festival budaya dua hari yang lalu berlangsung, rekaman saat ritual terlarang itu dilaksanakan, juga hari dimana Pak Rama menghembuskan nafas terakhirnya.

Tio kebingungan, juga Naara dan Auri “Festival budaya?”

“Ya” Angga mengangguk lagi, “Pehatikan baik-baik detik-detik sebelum Pak Rama terbunuh, Sebelumnya aku pernah menonton video CCTV ini bersama dengan tamanku yang tak tahu menahu tentang adanya ritual ini, Temanku langsung merinding, dia tidak melihat ada penari tambahan disana, padahal jelas jelas kita semua melihat penari tambahan yang mengelilingi Pak Rama bukan?”

Semuanya mengangguk setuju, Angga pun melanjutkan, “Temanku bilang, ini adalah video terseram sepanjang masa dimana ada seorang yang tiba tiba terluka dan mengeluarkan darah dengan sendirinya tanpa ada siapapun yang menyentuhnya. Jadi bisa dipastikan, yang bisa melihat makhluk selain manusia adalah kita yang tahu akan ritual atau kita yang terlibat akan ritual tersebut” Jelas Angga panjang lebar.

“Lalu?” Tanya Naara yang belum menangkap apa maksud dari penjelasan Angga

“Lalu perhatikan siapa yang muncul ditengah tengah keempat penari tambahan yang mengelilingi Pak Rama” Angga memperlambat video tersebut dengan mode slow. Saat detik-detik dimana keempat penari tambahan itu mengeluarkan keris dari balik selendangnya, Ya.. benar.. ada seorang wanita yang  muncul ditengah sana, Membawa keris yang paling bersinar dan membenamkan keris itu pada perut Pak Rama tanpa ampun.

“Agni!” Ketiganya tersentak, tak percaya.

Agni ditengah tengah penari itu, dan menghunuskan keris pada Pak Rama.

“Tapi bukanya Agni ada dipanggung bersama kita?” Protes Naara.

“Kau perhatikan baik-baik” Rangga menunjuk pada TV yang sedang memutar CCTV tersebut, “Yang dipanggung itu tatapan matanya kosong, dia pukan Agni, yang dipanggung itu, hanyalah Raga Agni, sedangkan Jiwanya disana, membunuh Pak Rama”

Mengerikan, ritual macam apa ini?

“Setelah itu..” Angga menelan ludah, rasanya kata-kata yang akan keluar berikutnya sangat sulit untuk diucapkan, “Lalu setelah itu, Agni yang mati, dengan kata lain orang yang telah membunuh adalah yang selanjutnya akan terbunuh.

“Apa?!” Kini giliran Auri yang menelan ludah, “Jadi orang yang telah membunuh Agni adalah yang akan menjadi korban selanjutnya?”

Angga hanya mengangguk. “Kalian harus menemukan orang lain yang memiliki dendam dan berniat untuk membunuh, lalu membujuknya untuk melakukan ritual itu, maka rantai itu akan terputus dari kalian, dan akan berpindah pada orang tersebut”

Bugh!

Hantaman sangat keras dari tangan Tio yang entah keberapa kalinya menyapa wajah Angga yang sudah penuh dengan luka.

“Kenapa kamu gak bilang dari awal? Kenapa kamu baru bilang setelah Agni mati?” Bentak Tio, “Setidaknya aku bisa selamatkan Agni jika aku tahu lebih cepat!”

“Maaf, aku berniat akan mengatakanya setelah Pak Rama mati, namun aku terlambat, Agni sudah keburu hilang”

Bugh!

“Lalu, kenapa kau tak bilang bahwa ada resiko ini sebelum kau memberi batu pusaka merah itu pada Agni?! Setidaknya, aku akan melarang Agni untuk melakukan ritual itu!”

“Maaf, tapi Aku butuh Agni untuk membalaskan dendam Sandra, jika aku katakan, Agni tak akan mau melakukanya”

“Egois!”

Saat ingin melayangkan pukulanya lagi, Naara dan Auri disana, mencoba menahan tangan Tio sekuat tenaga.

“Sudah cukup!” Naara sekuat tenaga menggenggam lengan Tio, mencegahnya melakukan tinjunya lagi” sekarang yang paling penting adalah, menemukan siapa yang membunuh Agni, orang itu dalam bahaya sekarang, dia akan mati jika kita tidak menemukan perantara lain”

“Tapi, gimana caranya kita tahu siapa pembunuh Agni? di gedung tua itu kan, satu-satunya tempat yang tidak ada CCTV nya?, dan si pembunuh itu pun adalah roh dari manusia yang tidak bisa dilihat oleh orang lain kecuali kita, sedangkan kita tidak ada disana saat kejadian untuk melihatnya?” Tanya Auri

“Aku tahu,” Ujar Angga, “Aku disana saat kematian Agni, dan aku tahu roh siapa yang ada disana dan membunuh Agni”

“Siapa?!” Naara dan Auri serentak bersamaan.

“Urvi”

“Hah? Hey nggak mungkin, Urvi lagi sama kita semua dirumah sakit waktu Agni hilang” Elak Auri.

“Coba pikirkan, Agni juga ada dipanggung saat kejadian itu, tapi itu hanya raganya, dan nyawanya ada di bangku penonton membunuh Pak Rama! Begitu juga dengan Urvi!”

Manik mata Tio, Naara dan Auri seketika membesar, baru ia sadari diruangan itu hanya ada mereka berempat termasuk Angga, tidak ada Urvi. Kemana Urvi?

“Sejak kapan Urvi tidak ada disini?!”

“Sial kita terlambat!”

Urvi hilang setelah membunuh Agni, sama seperti Agni kemarin yang hilang setelah membunuh Pak Rama. Dan kejadian selanjutnya bisa ditebak, Urvi akan dibunuh, Dan pembunuh Urvi nanti akan jadi korban selanjutnya, tidak ada habis habisnya. Jalan satu-satunya, mereka harus mencari tumbal untuk dijadikan pemutus rantai itu. Setidaknya bukan mereka yang harus mati, setidaknya jika mereka mencari tumbal, yang mati adalah orang lain, dan bukan teman mereka yang akan saling membunuh.


***


“Hai Agni, kau sudah mati, berarti kamu sudah tahu rahasia setelah kematian ya? Hihihi, mungkin nanti aku juga akan segera tahu rahasia itu, tunggu ya!”




Bersambung-




Regards : cicicipta




***


Ini adalah rangkaian  Story Blog Tour yang diadakan oleh para member Oneweekonepaper , untuk tahu cerita awal dan selanjutnya,, yuk biasakan membaca kisah sebelumnya


Selanjutnya.. Kak Rere ^^

0 comments:

Post a Comment

Happy Apple